(Hal. 90)
42 Comments. Leave new
wih, sampe segitunya ya…jeli banget deh pemahamannya mas richo ini…
Haha, berlebihan memang, mbak. ampuuun. ah, itu saking bacanya pas gak ngantuk, mbak 😀
teliti banget mas matanya wih,…wih …itunya kayaknya nggak serius deh bikinnya hembb…
https://www.novawijaya.com
Wih jeli banget nih mas Richo.
Weh, retur buku bisa tho?
ikut menyimak saja mas … penelitian yang super nih .. 🙂
sampai sejeli itu ya Mas membaca alur critanya, salut deh buat si Mas nya
Habis dikasik obat mata, mbak. penglihatan tambah jelas :D. hhehe, dimaklumi mbak, gak terlalu menggangu 😉
Hihi, pas ketemu yang keliru, mbak 😀
kalau bukunya Gagas di belakangnya ada pemberitahuan, mbak. kalau ada kasus seperti itu, bisa dikembalikan. cuma nunggu email dulu, khawatir dikirim ke sana, tapi gak ada penggangi. tapi sayang email jawaban gak masuk2.
Monggo, Mas. sekedar mengulas dari kejanggalannya, mas 🙂
Hhehe, soalnya komedi dengan hati, mas. jadi bacanya sampai ke hati *eaaa 😉
Kritis banget, Bang Richo.. Sampek bisa sedetail itu 😀
Ahahaha, teliti dulu sebelum membeli berarti ya, Bang. Detiiil banget deh. Saya sampe bolak-balik baca dipenjelasan ilustrasi Dika, Dodo dan Bahri, dan ternyata emang betul kebolakbalik ya. Top
salut buat Richo, bisa perhatian dengan detail begitu.
Saya biasanya, habis baca langsung lupa 🙁
kalau ini memang benar-benar kritisi sekali mas richo ini heehee
haha, mbak Beb, itu pas melek efek minum kopi *jangan percaya, gak suka kopi 😀
Hhaha, kalau itu koksekwensi setelah baca, mbak. karena sebagai salah satu penggemar buku2nya, sepele sih, cuma kadang menyayangkan, penulis sekelas bang Dika ada kejaggalan gitu, hihi. tapi tetap saja menantikan kelahirannya. haha, sip deh ketemu 😀
aaah, mbak Salmaaa ;), itu ketemunya pas kedapatan saja, mbak 😀
hihihi, efek komede pakai hati, masuk ke hati deh *eaa 😀
Mas bisa saja, tahu pas saya lagi mergoki. eh 😀
Ya ampun…. Masih tentang Koala Kumal, toh… Ampe jadi berapa postingan ini? Hehe… Sepertinya suka banget sama karya2 Raditya Dika kah?
Hwa, banyak juga ya kesalahan ketiknya… Suka lumayan mengganggu memang bacanya. Mengenai retur buku, udh parah itumah ya. Saranku sih coba tanya ke admin twitter penerbitnya. Siapa tahu ditanggapi & dikasih tahu caranya.
jelis dan teliti banget kang richo ini dalam soal membaca hehee , ,
Huihihi, iya nih. hehe. tinggal satu lagi, simpan dulu, engap nanti yang baca :D. begitulah, mbak, selalu nunggu kelahiran buku2nya, ehehe.
untuk penulis sekelas dia, ya agak disayangkan, mbak. toleransi untuk ini, hhehe. bukan satu yang catat soalnya, mbak. kebalik, hilang, ngedouble, lompat2. untungnya buku yang saya punya tidak bernasip sama. oh gitu, iya saya belum nyoba ke sana. nanti tak coba, makasih sarannya 😉
haha, nggak juga ah, pas kedapatan saja tuh, mas 😀
wah saya malah suka sama adegan foto yg di miami itu mas hehe…. mantap mas richo lanjutkan…
Haha, klimaksnya bikin ngakak yah, mas :D. lanjutkan juga *eh 😀
Wah saya benar-benar salut sama mas Richo ini. Saya sudah membaca artiel di atas dua kali dan masih tidak menangkap apa yang ingin mas Richo sampaikan kepada pembaca. Mungkin saya mbaca nya sambil ngantuk kali yaa. Dilihat dari ulasan Mas Richo di atas, menunjukkan bahwa mas Richo suka banget membaca buku, sampai-sampai bisa menganalisa di kalimat ke berapa dari sebuah paragraf yang terletak di halaman sekian terdapat sebuah atau lebih kejanggalan. Nah bingung sendiri kan saya saat berkomentar. hehe ngopi dulu mas biar ndak ngantuk.
Hhehe, mas berlebihan nah. entahlah, saya juga bingung, mas. eh, hihi. cuman memperlihatkan kejanggalan yang saya temui dalam buku ini. tapi sebagai catatan, mungkin ada bagian yang dinilainya terlalu subjektif. tapi intinya melihat kejanggalan saja, tidak berdasarkan bagus atau tidaknya kualitas isi bukunya. saking itu kebetulan saja, mas. hhaha. oh iyah, monggo dinikmati kopi hangatnya, mas. saya tidak minum kopi. kalau boleh tukar, ganti ke teh saja, mas *loh. ngihihi 😀
Tak ada gading yang tak retak memang. Mungkin Radith lagi banyak pikiran kali ya. Buku yang ini juga dipaksakan terbit, mungkin biar terlihat masih eksis saja. Hahaha, just kidding.
Tapi lu bener. Ngapain juga menuntut kesempurnaan? Jujur nih, selama ini suka ngedit2 naskah sendiri pun, gue juga jauh dari kata sempurna. Kadang udah diedit sekali, masih saja suka menemukan kesalahan2. Hahaha
Btw, analisis lu detil juga ya. Beneran seorang pengamat. Cocok lu jadi seorang editor. Coba terus diasah deh kemampuan editingnya. ^_^
Sepakat, mas. kalau kemungkinan itu, euum.. saya pribadi gak melihat hal yang sama, mas. hehe.
Yup, saya juga begitu, mas. setelah dipublikasikan pun, ketika dikoreksi masih saja ada yang typolah, kurang pas lah, dan sebagainya. berulang kali diperiksa juga masih sering nemu kesalahannya, hihi.
Haha, kebetulan dapat itu, mas. kalau bacanya lagi ngantuk, mungkin saya kelewatan, hhoho. masih belajar nulis dulu ke masnya, hihi.
Aku jugak lagi melek gegara minum kopi. Tapi demi ngerjain abstrak sih. T_T
Bagi penikmat kopi, kopi menjadi andalan penghilang ngantuk. sayangnya saya nggak suka, uihihi. wah, semangat-semangat 😉
Aku terpaksaaaa.. 🙁
Nggak apa-apa, namanya juga kewajiba yang perlu diselesaikan. nanti buah perjuangan akan dirasakan setelahnya, mbak Beb 😉
kalau kita membaca beberapa buku, biasanya ada juga kejanggalan dalam masalah penulisan dan kadang ada beberapa penggunaan kata orang ketiga tunggal yang membingungkan itu siapa. namun pada kasus lain kadang hal ini di sengaja untuk membuat pembaca penasaran dan harus menghabiskan semua cerita baru mengerti. namun kebanyakan yang paling membahayakan adalah alur dalam cerita yang disuguhkan, karena kalau kita menulis suatu tulisan ilmiah atau cerita pendek sekalipun harus mengolah alur yang jelas, sehingga pembaca memahami dengan mudah apa yang disampaikan. walau pilihan alur dan gaya dalam penulisn itu adalah dengan gaya kita sendiri. tapi beberapa pengamatan yang anda lakukan pada dodo yang rebahan di atas mobil itu kadang tidak disadari pembaca, namun ini harus di perbaiki. karena ilustrasi adalah penggambaran cerita, anek saja kalau sampai ilustrasinya terbalilk. ok makasih mas. sebuah pengamatan yang brilian….mau juga rasanya belajar di blog ini mengenai beberapa hal dalam menulis. sapa tau aja bisa nulis novel akhirnya…heee. ok makasih dan hppy blogging
Mungkin gara-gara Dika diburu deadline, jadi nulisnya kurang teliti… Editornya juga begitu… 😀
Omong-omong, untuk buku-buku gagas group, biasanya di halaman terakhir ada petunjuk buat ngeretur bukunya, Mas…. Langsung kirim ke alamat yg ada di situ….
iyah, pasti ada saja kesalahan tak disengaja itu, mbah. yang kita rasa masib dalam batas wajar. kecuali kalau sudah setiap lembarnya terdapat kesalahan, baru bertanya-tanya, apa ini :D. terima kasih komentar super panjangnya, jadi renungan buat saya.happy blogging juga 😉
hhehe, si Koala gak sabar melahirkan yah, mas, hihi. editornya kurang minum, sehingga konsentrasi dan fokus berkurang *korban iklan 😀
iyah, ada di bagian akhirnya, mas. tapi saya ngirim email dan sampai komen ini dijawab, belum ada balasan. jadi justeru dikhawatirkan gak ada respon balik dan buku tanpa ada pengganti. jadinya diikhlasin saja 🙂
walahh.. itu mah bukan salah penulisnya. editornya aja yg kurang teliti. gue gak trima bang dika dikata-katain kek gitu.. Pppffffff..
resensinya sampai sedetil ini…saya aja butuh waktu lebih lama dan berkali2 untuk menbaca hasil resensi buku ini….keren hasilnya mas rico
Wah gan, ane cuman mau bilang klo yg di ilustrasi komik itu kyaknya agan emang dapat yg cacat, soalnya ane punya si Bahri disamping Dika dan Dodo sendiri dibawah.
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Dari penerbit sudah ada perbaikan untuk edisi cetakan berikutnya, contohnya yg saya beli juga sudah ada perbaikan untuk bagian yg kesalahan cetaknya , seperti bagian "ilustrasi komik yang salah & hal 66 pada penulisan nama Astra" juga sudah diperbaiki nih.
yg komik itu sdh di edit sy lihat di buku sy


Leave a Reply